
Prolog: cinta adalah obat segala duka..
Kesepian adalah penyakit jiwa paling menakutkan. Kesepian –to live with everyone but to feel there is no one— adalah sebuah sindroma berbahaya yang mengeliminasi setiap ruang kecil untuk jiwa berbagi. Celakanya, jiwa adalah substansi metafisika yang tidak bisa dijamah lewat konsep-konsep ilmu fisika dan jiwa bukanlah ranah tempat berlakunya rumus-rumus kimia. Maka, jika jiwamu sakit, jutaan uang yang kau pegang hanya akan jadi buih di hadapan karang. Oh, sungguh malang mereka yang menderita kesepian!
Ketahuilah, hanya ada satu obat buat mereka yang kesepian jiwanya. Jika anda ingin mendapatkannya, maka mintalah resepnya pada seorang pria yang sedang berdiri mematung di bawah pohon sana..
***
Di sebuah acara pemakaman..
Hutan ini sangat hening. Aku berdiri di sini, sendiri, hanya berteman diam dan sepi. Aku telah menanggalkan pakaian kebahagiaan dan menggantinya dengan jubah hitam kesedihan, kemudian aku menebarkan aroma dupa kematian ke sekelilingku agar setiap orang yang berada di dekatku tahu betapa aku merasa sangat kehilangan..
Aku memandang tanah basah pemakaman. Di telingaku masih terngiang-ngiang petuah seorang bijak: “Tuhan telah mewahyukan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Tapi janganlah lupa bahwa tidak setiap sakit harus disembuhkan Tuhan..”. Aku tahu bahwa jutaan orang sakit, meminum obat, beristirahat, kemudian kembali sehat. Tapi aku lupa bahwa ada jutaan orang lain yang sakit, meminum obat, tetap sekarat kemudian wafat..
Memang, hanya Tuhan-lah sendiri yang memiliki Hikmah dan Dia tidak mungkin salah. Hanyalah aku, hamba-Nya yang lemah, tak mampu meraba jalan kemauan Tuhan. Aku hanyalah manusia biasa yang selalu menerapkan standar ganda pada setiap keputusan Tuhan. Jika menguntungkan bagiku, aku menganggapnya sebagai anugerah. Tapi jika merugikan diriku, aku menyebutnya sebagai musibah.
Sungguh sulit kuterima kenyataan ini: bunga cintaku telah bersemi, layu kemudian mati. Maka, akan kukuburkan cinta itu di sini, di bawah permukaan tanah basah ini. Akan kutancapkan di atasnya sebongkah batu nisan dan kan kupahat di sana sebuah tulisan, agar setiap manusia yang melewati hutan ini bisa membaca dan juga –syukur-syukur— bisa meraba bahwa rasa cintaku yang besar tidak akan pernah pudar:
–for my inspiring angel—
you are the shining star in the dark sky
come down here and permit me cry
Bagiku, engkau adalah pancaran sinar Tuhan yang turun di tengah kesuraman zaman. Kehilanganmu adalah kesedihan terbesar dalam hidupku. Oleh karena itu, sebagai luapan emosi sedihku dan juga ungkapan rasa terima kasihku untukmu, akan kubacakan eulogi ini dengan penuh penghayatan, disaksikan oleh burung-burung gagak, pepohonan, bebatuan dan daun-daun yang berserakan sebagai tanda perpisahan dan ucapan selamat jalan..
Epilog: cinta adalah duka sekaligus semangat yang membara..
Dan aku terkenang Joseph Vissarionovich Jugashvilli –jagal 20 juta manusia dari Uni Soviet—ketika di tahun 1905 ia menghadiri pemakaman seorang wanita bernama Katherine Svanide. Di depan makam kekasih tercintanya tersebut, ia berkata sambil menangis: “Saya kenal dia, tetapi kini dia telah tiada. Inilah perasaan hangat saya yang terakhir pada seluruh manusia..”
–wa tammat kalimatu ‘abdika dzul jahli wal ‘ishyaan—
(sang musafir: 2007-2008)