Elea: Abad Kegelapan..
Seorang pemuda sedang duduk berhadap-hadapan dengan kekasihnya di sebuah bangku taman. Pemuda itu berkata: “Aku selalu mendengar namamu disebut-sebut orang, di tempat ramai maupun di tempat sepi; di pasar-pasar, di jalan-jalan, di kedai-kedai kopi, di gang-gang sempit hingga di pojok kamar-kamar penginapan para perantau. Dengan telingaku, aku mengetahui bahwa dirimu adalah gadis yang cantik karena orang-orang itu selalu memperbincangkan kecantikanmu. Kini duduklah mendekat, karena aku ingin menatap wajahmu lekat-lekat..”
Gadis itu segera menjawab: “Tapi Engkau buta. Engkau tak dapat…” “Sssttt…!” pemuda itu segera meletakkan telunjuk kanannya di bibirnya untuk menyela. “Lihatlah telunjuk kananku ini! Tuhan telah memindahkan kedua mataku ke sini. Mataku yang baru ini lebih tajam dari mata siapa pun karena dia dapat melihat sama baiknya di kala terang atau pun gelap, tak terpengaruh cahaya…”
Gadis itu segera menggenggam tangan kanan kekasihnya seraya berkata: “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” Pemuda itu menjawab: “Tolong letakkan telunjuk kananku ini di dahimu..” Gadis itu segera meletakkan telunjuk kanan sang pemuda di dahinya. Jari itu kemudian bergerak ke kanan dan kiri, ke atas dan bawah dengan lincah. Jari itu seolah-olah adalah kuas dan gerakan jarinya ibarat arsiran seorang pelukis di atas kanvas. Pemuda buta itu tidak pernah melihat wajah kekasihnya. Namun dengan insting yang kuat, ia berusaha untuk mendapatkan sketsa wajahnya.
Setelah menyusuri dahi gadis itu yang datar, perlahan-lahan jarinya melingkari kedua bola mata gadis itu: matanya agak bulat. Di antara kedua bola mata gadis itu, ia menemukan sebuah titik, ada sebuah turunan di bawahnya. Jarinya meluncur pelan hingga ke ujung hidung gadis itu: hidungnya tidak mancung tidak pesek, khas Elea. Jarinya kemudian berpindah ke pipi kanan dan kiri gadis itu secara bergantian. Ia mengelus pipi itu halus: ada semacam gundukan kecil di sana, pipinya agak berisi namun lembut bagai roti. Kemudian jarinya beralih ke bibir gadis itu: bibirnya proporsional, tidak kembung tidak kempis. Pemuda buta itu menelusuri setiap lekuk di wajah kekasihnya, tak ingin melewatkan setitik area pun dari sana. Saat pemuda itu telah menyelesaikan penjelajahannya, ia meletakkan telunjuk kanannya itu di dagu gadis yang licin.
Si pemuda buta hampir menyelesaikan lukisannya. Lukisan itu adalah nyawanya dan ia ingin menghidupkannya. Telunjuk kanan pemuda itu masih menempel di dagu sang gadis, kemudian dia menggerakkan keempat jari kanan lain yang sejak tadi pasif tergenggam, membuka untuk meraih dagu gadis itu lebih mantap. Perlahan-lahan, ia menarik dagu itu maju, terus mendekat –dengan insting yang tepat- hingga hidung dan bibir keduanya bertemu. Pemuda buta itu meniupkan ruhnya ke lukisan itu –mencium bibir gadis itu- dalam kegelapan, sedangkan sang gadis –tanpa sepengetahuan pemuda buta- juga melewati moment itu dengan mata terpejam, menemani pemuda buta dalam kegelapan. Mereka saling memberi nafas, membagi kehidupan satu sama lain. Mereka melakukannya dengan penghayatan, sakral, dengan penuh kasih sayang, bukan nafsu binatang. Pemuda buta kini merasakan bahwa lukisan itu menjadi lebih hidup. Saat itulah, dia dapat melihat –meski dalam kegelapan- dengan jelas wajah kekasihnya untuk pertama kalinya. Alangkah cantiknya dia! Alangkah mempesonanya dia! Kini, pemuda buta itu baru mengerti mengapa orang-orang itu –di tempat ramai maupun sepi- selalu memperbincangkan permaisuri hatinya ini!






