Oleh: madjikanimyang | Desember 11, 2009

trilogi sang musafir I

-kejatuhan spiritual-

Entah angin mana yang membawa Alkhaa’if Binawahillah, sang musafir dari Elea, kembali ke tempat ini. Sebuah tempat sepi di mana tak ada siapa pun kecuali Tuhan, dia, alam dan mungkin juga setan.

Sang musafir memejamkan mata, dalam, hingga ia merasa tak ada lagi cahaya yang masuk ke matanya. Dia mencoba berfikir tenang meski saraf-saraf di sekujur tubuhnya masih terasa tegang. Secara lahiriah, dia tampak baik-baik saja. Tapi secara batiniah, dia sedang sakit tak terkira. Dia merasa lelah: lelah dengan obsesi-obsesinya, lelah mengejar dunia beserta isinya, lelah dengan hidupnya.

Musafir merindukan kedamaian. Oleh karena itu, ia memejamkan mata lebih dalam agar ia dapat meleburkan diri, menyatu dan bercumbu dengan alam. Ingin rasanya ia terbang ke dunia mimpi namun raganya tak mengizinkan jiwanya untuk pergi.

Ada getir di hati sang musafir. Saat itulah, ia mendengar sebuah suara lembut nan maut dari balik kegelapan yang berkabut: ”Semua orang yang berperang melawan monster harus berhati-hati dalam prosesnya agar tidak menjadi monster. Dan jika kau menatap ngarai terlalu lama, ngarai itu juga akan menatapmu..” [ aforisme Nietzshe ke 146 ]

Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mendorong tubuhnya dari belakang. Ia segera membuka mata namun terlambat untuk menyadari segalanya:

Ia sedang melayang menuju dasar jurang..

Oleh: madjikanimyang | September 3, 2009

twilight

candle 1

And now, the end of twilight. The sun is gone but I have a light..

(diaz in collaboration with Kurt Cobain)

Oleh: madjikanimyang | Agustus 26, 2009

merdeka!

semangka

sepotong semangka & buat apa negeri ini merdeka

Dari atas sebuah jembatan penyeberangan, saya melihat di bawah sana ada seorang penjual rujak buah. Dia memamerkan berbagai macam buah yang beraneka rasa dan warna di balik etalase kaca gerobak jualannya. Cuaca yang terik mendorong saya untuk segera menghampiri sang penjual rujak buah tersebut. Sempat bingung ingin membeli buah apa, namun karena tema besar hari ini adalah kemerdekaan Republik Indonesia, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil sepotong semangka..

***

Semua orang pasti tahu, 17 Agustus 1945 adalah hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Jika ada seorang manusia Indonesia yang lahir berbarengan dengan moment bersejarah tersebut, berarti kini umurnya sudah mencapai 64 tahun dan pastinya orang itu sudah cukup tua sekarang. Artinya apa? 64 tahun bukanlah waktu yang singkat dan apa yang telah dicapai oleh para penerus bangsa dalam kurun waktu yang panjang tersebut? Apa yang seharusnya dilakukan oleh para penerus bangsa setelah negeri ini merdeka? Biar tidak salah arah, saya memutuskan untuk mengajukan sebuah pertanyaan pada Bung Karno dan Bung Hatta: buat apa dulu kita susah-susah merdeka? Jawab mereka: agar segala potensi sumber daya alam negeri ini tidak lagi dimakan oleh bangsa asing melainkan digunakan untuk menyejahterakan bangsa kita sendiri, bangsa Indonesia! Menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, itulah cara mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Kesejahteraan rakyat Indonesia memang patut menjadi sorotan utama. Buat apa merdeka jika nasib tidak lebih baik dari zaman penjajahan? Dahulu, bangsa kita hidup amat sangat menderita. Negeri kita kaya tapi kekayaan itu dikeruk dan diangkut semua oleh bangsa asing yang terkutuk. Mereka hanya menyisakan sedikit kesejahteraan buat antek-antek pribumi penjilat berkulit coklat dan kesengsaraan buat hampir seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia menginginkan perubahan, dan oleh karena itulah rakyat Indonesia kemudian memproklamirkan sebuah kemerdekaan. Setelah merdeka, semua harus berubah. Jangan sampai ada status quo, segelintir orang yang masih saja memonopoli kesejahteraan tersebut. Kesejahteraan tidak boleh lagi dinikmati oleh para pemimpinnya saja, atau orang-orang yang bercokol di pemerintahan beserta keluarga dan koleganya saja. Kesejahteraan itu bukan hanya untuk para pejabat apalagi untuk para bangsat. Bukan! Kesejahteraan itu harus jadi milik semua rakyat!

Peringatan 17 Agustus hari ini memang penting. Semua rakyat larut dalam kegembiraan. Tapi janganlah lupa bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ’metamerdeka’ (mau apa setelah merdeka) adalah masalah yang juga tidak kalah penting. Para pendahulu kita telah melaksanakan kewajibannya, mengantarkan negeri ini pada gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Tugas generasi selanjutnya untuk mengisi –bukan sekedar menikmati— kemerdekaan ini. Menyejahterakan rakyat Indonesia, ini, sebagaimana telah diamanatkan oleh para pendahulu kita, adalah tugas pemerintah yang tidak kalah berat dari mengusir para penjajah di zaman kemerdekaan. Pertanyaannya sekarang adalah: sudahkah cita-cita tersebut tercapai? Setelah 64 tahun merdeka, sudahkah kesejahteraan merata buat semua anak bangsa terlaksana? Sudah tiadakah feodalisme dan diskriminasi di bumi pertiwi?

***

Saya percaya bahwa para pemegang amanat rakyat, baik yang masih menjabat maupun yang sudah wafat, penerus perjuangan setelah kemerdekaan baik dulu maupun saat ini, mereka-mereka itu bukanlah sekumpulan orang goblok. Mereka pasti pernah belajar PMP, PPKn, PKN atau apalah namanya sekarang. Mereka pasti tahu atau pernah mendengar cita-cita mulia dibalik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dari para founding father negara kita. Apakah mereka telah diajari tentang makna kemerdekaan? Pasti sudah. Apakah mereka tidak tamak dan serakah? Inilah yang jadi masalah. Harta sering membuat silau mata manusia. Kekayaan negara kita yang melimpah di tangan mereka, relakah mereka untuk mendistribusikannya? Nikmatnya sumber-sumber daya alam di Indonesia, relakah mereka untuk membagikannya? Atau jangan-jangan mereka sama semua seperti saya saat ini, yang melahap nikmatnya sepotong ’sang merah putih’ semangka seorang diri, tanpa berbagi pada mereka yang ada di sebelah kanan dan kiri?

–On the way to kampoes, 17 Agoestoes 2009–

Oleh: madjikanimyang | Agustus 3, 2009

petaka cinta

sad

–aforisme cinta musafir dari Elea–

[1]

Cinta tak mengenal kata ‘biasa-biasa saja’. Ia tak pernah berada di ranah ’rata-rata’. Cinta sejati selalu bersifat extraordinary, entah itu ekstrem kanan atau kiri. Ia bisa membuat aku melayang tinggi di angkasa atau menenggelamkanku jauh di dasar samudera. Ia juga bisa menjadikan aku pemimpin yang berkharisma atau mengubahku menjadi seorang penderita schizophrenia. Terserah cinta!

[2]

Aku percaya, adalah cinta yang mempermainkan hati manusia, mengombang-ambingkannya dan menghempaskannya ke arah mana pun ia suka. Cinta pula yang memberikan aku sayap hingga aku dapat terbang tinggi menjulang layaknya seekor burung elang. Namun ia pula yang mencabut kembali sayap itu hingga akhirnya aku jatuh ke dalam jurang, hancur menghantam batu karang.

[3]

Tak ingin aku berkering-kering air mata, menangis, meratap, mengemis karena cinta meski tawa selebar samudera sekalipun tak akan pernah menyembuhkan luka. Tapi tetap tak ingin aku mengucurkan air mata, mengutuk, mengamuk karena cinta karena aku tahu: Aku dan dia adalah 2 jiwa milik Tuhan yang dapat kapan saja Dia pertemukan dan pisahkan.

[4]

Aku menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini, sesungguhnya telah Tuhan gariskan sejak jauh-jauh hari. Aku yang dulu mencintaimu, hampir melupakanmu, kemarin kembali bertemu dan hingga detik ini ternyata masih tetap mencintaimu. Tidak mudah memang, melepas diri dari bayang-bayang cinta dan perjuangan kerasku pun selama ini kandas begitu saja. Betapa mudahnya, betapa gila, betapa merananya!

[5]

Biarlah kali ini aku ingin kamu tertidur panjang, hingga kelak kamu bangun di suatu petang, Engkau akan mendapati diriku telah menjadi sebongkah batu karang. Aku janjikan itu padamu, Sayang!

–sore sayu di atas langit Kampung Melayu, 31 Joeli 2009–

Oleh: madjikanimyang | Agustus 2, 2009

loving you..

bintang

Dan teringatlah aku akan dirimu, tatkala aku menatap bintang-bintang lalu salah satu di antara mereka bilang:

“Mengapa kami hanya dipandang, tak sekalipun diajak berbincang-bincang?”

Oleh: madjikanimyang | Juli 22, 2009

my black bucket lists

before I write, I recite:

In the name of Allah the Beneficent and the Merciful

My Black Bucket Lists

1. say ‘I love you’ to you..

2. listen the answer ‘me too’ from you..

3. kiss the most wonderful girl in the world –you..

4. witnesses the truly majestic in you..

5. write an amazing story about me and you..

6. watching the sunset on gondola at Venice beside you..

7. give a gift, even simple but unforgettable, for you..

8. spend a twilight on the road accompanying you..

9. ‘diving in love’ only two with you..

10. fly to paradise together with no one ever but you..

-I miss you so much, 15 July 2009-

Oleh: madjikanimyang | Juli 7, 2009

the difference between her and others

her

di suatu sore..

Aku berada di sebuah halte dekat jembatan penyeberangan. Aku sedang menunggu bus patas 300 yang akan membawaku dari Senayan menuju tempat peristirahatan..

***

Akhir-akhir ini, aku suka membaca buku-buku tentang Bung Karno. Aku berusaha merenungi riwayat hidupnya, menapaktilasi jalan perjuangannya serta menyelami alam pikirannya. Sungguh menggugah pribadi yang satu ini, bahkan 4 dekade setelah kematiannya yang menyedihkan, ia masih saja menjadi sosok yang dekat dan dikenang oleh rakyat. Dari tulisan-tulisannya, aku mendapati sebuah pesan: seorang pria —warga negara Indonesia– haruslah menjadi patriot bagi bangsanya. Seorang pria haruslah menjadi pahlawan bagi negerinya. Sebuah pesan yang gaungnya semakin lama semakin terdengar pelan karena tertutupi debu-debu perpustakaan, sebuah pesan luar biasa yang tersembunyi di balik sunyinya tembok perpustakaan, dan pesan itu sekaligus menjadi sebuah tonjokan buatku yang cukup menyadarkan: bagaimana bisa selama ini aku tidak memikirkan negeriku, mengalahkan bangsaku hanya gara-gara seorang wanita? Sekali lagi aku bertanya: bagaimana bisa aku melakukannya? Bagaimana bisa generasi muda bangsa dilenakan dengan hal-hal kecil bernama asmara? Maka detik itu pula aku marah pada diriku!

Aku segera meniatkan sebuah perubahan, meluruskan tujuan demi melaksanakan sebuah pemberontakan kepada setan-setan yang telah menjerumuskan aku ke dalam kesia-siaan! Bersama singa-singa lain, aku ingin bergabung menjadi elemen perubahan, simbol kebangkitan serta perlawanan terhadap kungkungan penindasan dan kebodohan yang sengaja dipelihara dan diwariskan oleh para setan yang bercokol di pemerintahan.

Aku baru menyadari bahwa belakangan ini, aku telah menyibukkan diriku dan mengalihkan perhatianku dari hal-hal yang berbau cinta dan sejenisnya. Ada 2 hal yang aku lakukan untuk melapisi hatiku dari berbagai macam godaan dan rayuan duniawi yang sangat memabukkan.

Hal pertama yang aku lakukan adalah mendekatkan diri dengan dunia intelektual. Kontemplasi di perpustakaan, membaca majalah, koran, menonton debat-debat di televisi dan hari ini, aku baru saja menghabiskan setengah hariku di Jakarta Book Fair 2009 serta menghabiskan seluruh uangku untuk membeli buku-buku yang menarik minatku. Aku gila juga gila-gilaan. Gila ilmu pengetahuan milik para ilmuwan serta gila kebijaksanaan milik para seniman.

Hal kedua yang aku lakukan adalah menenggelamkan diri ke dalam realita pergaulan sosial. Aku telah belajar beberapa teori pergaulan dan ketika aku mengimplementasikan ilmu itu dari dunia kata-kata ke dalam dunia nyata, aku menemukan korelasi dan manfaatnya yang cukup signifikan. Aku kini tak lagi segan untuk bergabung di sebuah kepanitiaan. Tak tanggung-tanggung, aku langsung ikut di 5 kepanitaan yang berbeda dengan tugas yang berbeda-beda pula, mulai dari kerja kasar sampai kerja lembut. Aku melatih dan membiasakan diriku dengan sakit dan ketidaknyamanan. Semua itu kulakukan demi mereduksi habis-habisan ‘affy excessive dependency syndrome’.

Dan kini, hari ini, setelah waktu berjalan lebih dari 1 bulan, aku kembali mempertanyakan efektivitas segala hal yang telah kulakukan. Apakah aku berhasil merengkuh kembali hati yang tak tergoyahkan? Apakah itu semua berhasil melupa kan aku dari sang perawan? Jawabanku: not at all..

di atas bis patas 300..

Aku menatap ke luar jendela. Senja perlahan menutupi langit Jakarta. Ketika bis mulai beranjak, mataku terpahat pada sebuah baliho besar di pinggir jalan Sudirman-Senayan yang bertuliskan:

it was incomplete

until the day you walk into my life..


tiba-tiba aku merasakan bahwa hati yang tadi tidak tergoyahkan kini telah jatuh dan hancur berantakan…

–Minggu, 5 Juli 2009–

Oleh: madjikanimyang | Juni 29, 2009

truth covered in security

Di salah satu sudut ruangan di Perpustakaan Pusat..

Entah mengapa, akhir-akhir ini kadar melanchol dalam diriku semakin kental saja padahal aku –merujuk pada pembagian manusia berdasarkan tempramennya—bukanlah seorang melancholic seperti JA. Sejatinya, aku adalah seorang phlegmatic yang lamban, cinta kedamaian dan kejumudan (yang menenteramkan) serta sedikit anti dengan perubahan. Ini pula yang menyebabkan aku mengalami beberapa ketertinggalan dalam hidup dan saat ini –yang paling gres— adalah soal SKS kuliah.

Kembali pada masalah tipe manusia berdasarkan tempramennya, sebenarnya aku tidaklah membenci sifat melankolis apalagi orang-orang yang melancholic. Aku tidak memiliki masalah dengan mereka. Tapi yang aku benci adalah komplikasi yang ditimbulkan oleh sifat melankolis ini buat orang sepertiku. Melanchol adalah senyawa yang mengakibatkan penyempitan ruang di hati untuk menyimpan berbagai macam perasaan. Imbasnya, melanchol memaksa aku untuk mencari ruang lain di hati orang sebagai tempat penampungan –atau pelampiasan lebih tepatnya—perasaanku jika sedang meluap-luap.

Normalnya, jika dianalogikan, volume ruang di hatiku dulu adalah seluas danau yang mampu menampung, kerikil, batu, atau bahkan mobil sekalipun. Siapapun dapat melemparkan apapun ke dalam danau hatiku dan dia akan menyimpannya tanpa meninggalkan setitik jejak pun di atasnya. Sungguh rapi, bersih dan terorganisasi dengan baik.

Tapi sayang, kondisinya kini telah jauh berbeda. Aku merasa bahwa daya tampung ruang di hatiku tinggallah segelas air minum saja. Beberapa implikasi yang timbul akhir-akhir ini seolah menjusitifikasi bahwa kecemasanku itu memang benar. Masalah-masalah yang dulu kecil kini terasa besar, dan aku mencermati bahwa beberapa hari ke belakang, aku telah terlalu vulgar berbicara tentang perasaan. Damn it!

Hal paling parah terjadi di malam itu (15 Mei 2009) di kala produktivitas kortisol dalam hipotalamusku sedang memuncak (akibat mata kuliah: Metodologi dan Penelitian Ilmiah) ditambah pengaruh melanchol dalam darah, aku bertindak bodoh, gila lagi tolol. Benar-benar uncontrolled layaknya mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol!

–Hari-hari setelah itu terasa campur aduk bagiku. Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah daerah di Sukawening Jawa Barat—

Momen di pagi itu..

Dan angin sejuk pegunungan telah mengoyak kontemplasiku. Dalam ketenangan abadiku, selalu kucari kedamaian itu. Aku selalu teringat pada dirimu ketika aku menatap dalamnya jurang bahkan dikala aku menghadap kokohnya Gunung Manglayang. Siapa yang tidak gila didera terus-menerus oleh api asmara?

–a spot at Unpad, 11 Juni 2009–

Oleh: madjikanimyang | Juni 28, 2009

you say you wonder your own land…[keane]

monas

Jakarta, sebuah kota di tepi laut Jawa yang pada awalnya diproyeksikan oleh Simon Stevin –arsitek kota tua Batavia asal Belanda– menjadi Amsterdam van Indonesia. Dibangun di atas tanah berawa, kota dengan luas awal 1×0,5 kilometer persegi ini dilengkapi dengan kanal-kanal cantik yang menjadi urat nadi transportasi serta menghubungkan wilayah pelabuhan dengan daerah pedalaman. Sayang, kanal-kanal cantik ini kini hanya tinggal kenangan.

Di salah satu sudut kota Jakarta, aku dilahirkan, dibesarkan dan kelak –jika Tuhan mengizinkan— aku dimatikan dan dikebumikan. Aku mencintai kota ini dengan segala seluk-beluknya beserta paradoksnya. Paradoks di Jakarta terlalu mencolok. Di satu sisi, pembangunan mengalami lonjakan yang pesat namun di sisi lain kelestarian lingkungannya mengalami anjlokan yang dahsyat. Menurut cerita kakekku, Jakarta tempo dulu dipenuhi dengan hutan pohon tapi kini telah berganti menjadi hutan beton. Pepohonan yang dahulu lebat kini telah dibabat untuk dijadikan permukiman. Sungai-sungai yang dulu jernih kini telah berubah menjadi coklat bahkan ada pula yang sampai berwarna hitam pekat! Sawah, empang dan rawa-rawanya juga telah diurug untuk dijadikan rumah dan bangunan.

Tempat-tempat yang dulu sepi kini telah berubah menjadi ramai, bahkan daerah Kemang dan Bangka di bilangan Jakarta Selatan yang dulu dijuluki ”tempat jin buang anak” kini telah menjadi kawasan elit yang banyak dihuni oleh para ekspatriat dari luar negeri. Penduduk aslinya kebanyakan telah pindah entah kemana. Saya pernah bertemu dengan seorang penjual celengan yang terbuat dari kardus dan daun pisang di KRL Ekonomi Bogor-Jakarta Kota sepulang dari kampus, dan kami sempat mengobrol untuk sesaat. Dari obrolan singkat di atas kereta senja itu, saya mendapatkan cerita bahwa penjual celengan itu dulunya merupakan penduduk asli Kuningan (kawasan bisnis di Jakarta Selatan saat ini) tapi kini, dia dan keluarganya telah berpindah ke Serang, Banten. Setahu saya, dari beberapa informasi yang saya dapat dari media cetak dan elektronik, kebanyakan dari warga Jakarta telah mengungsi ke daerah-daerah di sekitar Jakarta, utamanya Bodetabek. Kebanyakan mereka adalah korban penggusuran dan mereka harus rela menyingkir ke pinggiran.

Berkah sebagai ibukota negara Indonesia, Jakarta menjadi prioritas utama kota yang harus dibenahi, direnovasi, dan didandani. Gedung-gedung bertingkat dibangun, jalan-jalan raya dibuat, patung-patung yang menjadi simbol kemegahan sebuah kota didirikan di sana-sini. Semua jalan mulai dari jalan arteri sampai jalan kelas teri di gang-gang telah beraspal. Sudah agak sulit menemukan jalan setapak (jalan tanah yang di kanan-kirinya biasanya masih ditumbuhi rerumputan) di Jakarta, yang berdebu ketika musim panas, serta becek dan licin di musim hujan. Jakarta –jika boleh diibaratkan sebagai wanita—telah membuat iri kota-kota lain di Indonesia karena Jakarta adalah kota yang paling kinclong pakaiannya, paling harum wangi parfumnya, paling tebal make-up wajahnya, serta paling mengkilap perhiasannya.

Jakarta is a wonderland, kota harapan, kota tujuan dari segala impian. Manusia-manusia mengimpikan Jakarta dan impian mereka tanamkan pula di sana. Jakarta, kini menjadi kota yang amat ramai, dengan jutaan orang yang berdomisili di dalamnya serta jutaan lain yang berkomutasi tiap hari, pulang-pergi dari daerah-daerah di sekitarnya. Pemandangan ribuan kendaraan yang lalu-lalang tiap harinya di jalanan kota Jakarta, yang membuat sesak napas ibukota yang telah tua dan renta serta ratusan manusia yang biasa berkumpul di tempat-tempat nongkrong yang gaul adalah fenomena yang sudah jamak adanya di Jakarta. Aroma paling santer yang akan tercium ketika kita mencermati tingkah polah kehidupan malam anak-anak muda Jakarta ada tiga: materialistis, hedonistis dan eksibisionis. Jakarta telah menjadi pusat kehidupan sekaligus kiblat peradaban di indonesia. Daya magnet Jakarta menghisap jauh hingga ke pelosok-pelosok desa, menarik setiap manusia untuk datang menghampirinya Penduduk Jakarta diprediksi untuk tahun-tahun ke depannya akan semakin membludak dan kelak, kota ini akan meledak. Ledakannya akan menghamburkan para penghuninya ke segala penjuru kota. Jakarta, sang Metropolis yang cantik dan modis sedang menuju fase nekropolis. Jakarta –jika tidak segera berbenah– sedang menuju kehancurannya, Jakarta –jika tidak segera berubah– sedang menunggu ajalnya…

***

Jakarta akan merayakan ulang tahunnya yang ke 482 besok. Malam ini, konsentrasi massa akan tercipta di beberapa titik antara lain di Pantai Ancol, PRJ di Kemayoran, Monumen Nasional, Museum Fatahillah, sekitar Telaga Setu dan sisanya memilih merayakannya di rumah saja bersama keluarga melalui layar kaca. Mereka bergembira menyambut hari lahirnya kota Jakarta. Kembang-kembang api yang bakal mereka nyalakan akan mengubah langit Jakarta yang gelap menjadi gemerlap walau cuma untuk sekejap. Ribuan manusia akan larut dalam kegembiraan dan aku pun tidak ingin melewatkan momen bersejarah ini. Aku berada di jalanan Jakarta malam ini, memandangi kota Jakarta, menikmati keindahan Jakarta dengan cara yang berbeda dari mereka. Jakarta memang indah di waktu malam, dan aku pun tertegun dalam diam. Jakarta, ada realita yang tersembunyi di balik megahnya, tidakkah Engkau melihatnya?

Djakarta, 21 Joeni 2009 Met ultah yang ke 482!

Oleh: madjikanimyang | Mei 20, 2009

the last memoir of musafir

pemakaman

Prolog: cinta adalah obat segala duka..

Kesepian adalah penyakit jiwa paling menakutkan. Kesepian –to live with everyone but to feel there is no one— adalah sebuah sindroma berbahaya yang mengeliminasi setiap ruang kecil untuk jiwa berbagi. Celakanya, jiwa adalah substansi metafisika yang tidak bisa dijamah lewat konsep-konsep ilmu fisika dan jiwa bukanlah ranah tempat berlakunya rumus-rumus kimia. Maka, jika jiwamu sakit, jutaan uang yang kau pegang hanya akan jadi buih di hadapan karang. Oh, sungguh malang mereka yang menderita kesepian!

Ketahuilah, hanya ada satu obat buat mereka yang kesepian jiwanya. Jika anda ingin mendapatkannya, maka mintalah resepnya pada seorang pria yang sedang berdiri mematung di bawah pohon sana..

***

Di sebuah acara pemakaman..

Hutan ini sangat hening. Aku berdiri di sini, sendiri, hanya berteman diam dan sepi. Aku telah menanggalkan pakaian kebahagiaan dan menggantinya dengan jubah hitam kesedihan, kemudian aku menebarkan aroma dupa kematian ke sekelilingku agar setiap orang yang berada di dekatku tahu betapa aku merasa sangat kehilangan..

Aku memandang tanah basah pemakaman. Di telingaku masih terngiang-ngiang petuah seorang bijak: “Tuhan telah mewahyukan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Tapi janganlah lupa bahwa tidak setiap sakit harus disembuhkan Tuhan..”. Aku tahu bahwa jutaan orang sakit, meminum obat, beristirahat, kemudian kembali sehat. Tapi aku lupa bahwa ada jutaan orang lain yang sakit, meminum obat, tetap sekarat kemudian wafat..

Memang, hanya Tuhan-lah sendiri yang memiliki Hikmah dan Dia tidak mungkin salah. Hanyalah aku, hamba-Nya yang lemah, tak mampu meraba jalan kemauan Tuhan. Aku hanyalah manusia biasa yang selalu menerapkan standar ganda pada setiap keputusan Tuhan. Jika menguntungkan bagiku, aku menganggapnya sebagai anugerah. Tapi jika merugikan diriku, aku menyebutnya sebagai musibah.

Sungguh sulit kuterima kenyataan ini: bunga cintaku telah bersemi, layu kemudian mati. Maka, akan kukuburkan cinta itu di sini, di bawah permukaan tanah basah ini. Akan kutancapkan di atasnya sebongkah batu nisan dan kan kupahat di sana sebuah tulisan, agar setiap manusia yang melewati hutan ini bisa membaca dan juga –syukur-syukur— bisa meraba bahwa rasa cintaku yang besar tidak akan pernah pudar:

–for my inspiring angel—

you are the shining star in the dark sky

come down here and permit me cry

Bagiku, engkau adalah pancaran sinar Tuhan yang turun di tengah kesuraman zaman. Kehilanganmu adalah kesedihan terbesar dalam hidupku. Oleh karena itu, sebagai luapan emosi sedihku dan juga ungkapan rasa terima kasihku untukmu, akan kubacakan eulogi ini dengan penuh penghayatan, disaksikan oleh burung-burung gagak, pepohonan, bebatuan dan daun-daun yang berserakan sebagai tanda perpisahan dan ucapan selamat jalan..

Epilog: cinta adalah duka sekaligus semangat yang membara..

Dan aku terkenang Joseph Vissarionovich Jugashvilli –jagal 20 juta manusia dari Uni Soviet—ketika di tahun 1905 ia menghadiri pemakaman seorang wanita bernama Katherine Svanide. Di depan makam kekasih tercintanya tersebut, ia berkata sambil menangis: “Saya kenal dia, tetapi kini dia telah tiada. Inilah perasaan hangat saya yang terakhir pada seluruh manusia..”

–wa tammat kalimatu ‘abdika dzul jahli wal ‘ishyaan—

(sang musafir: 2007-2008)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori