Oleh: madjikanimyang | Februari 19, 2009

manusia iblis bermulut manis

joker

RSP Arkham Asylum, tahun 2002 Masehi: aku sedang mendekam di sebuah rumah sakit ternama di kota Gotham, tepatnya di sebuah kamar yang sunyi dan sepi. Selain aku, tidak ada siapa-siapa lagi di dalam ruangan ini. Aku sendiri, tak punya teman untuk berkomunikasi. Juga tidak ada apa-apa di dalam ruangan terkutuk ini, bahkan sekedar televisi atau radio sebagai media informasi. Mataku mencoba menerawang, hanya inilah yang dapat kupandang: sebuah ranjang dan meja, sebuah lampu yang redup di atas kepalaku, sebuah jendela yang sempit di belakangku, sebuah pintu berjeruji besi di hadapanku dan empat buah dinding yang cukup tinggi di sekelilingku. Hanya itu..Aku terisolasi –atau lebih tepatnya: sengaja diisolasi—di sini. Aku tak tahu keadaan di luar sana, hanya bisa menebak-nebak dari balik jendela..

***

Aku sedang berada di negeriku. Tahun ini –2009— akan diadakan pemilu. Telah banyak tokoh-tokoh yang mencalonkan diri untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Muka-muka baru bermunculan, baik lewat jalur partai maupun independent, di samping juga masih ada muka-muka lama yang di masa lalu pernah gagal jadi presiden, namun hingga saat ini mereka masih punya semangat yang tinggi untuk menggapai mimpi, mengaktualisasikan diri dengan menjadi seorang pemegang tampuk kekuasaan. Mungkin mereka memegang teguh prinsip: “kegagalan adalah anak tangga menuju kesuksesan.”

Aku mengingat-ingat para mantan presidenku –selanjutnya disingkat: mapres–, ada lima orang. Mapres yang pertama dan kedua kini telah beristirahat di alam baka. Mapres yang ketiga dengan bijak telah menarik diri dari hingar-bingar panggung politik, tampaknya ia ingin berkonsentrasi mengumpulkan bekal tuk kehidupan di akhirat sana. Mapres yang keempat, aku tak tahu pasti bagaimana kabarnya, pun media-media masa akhir-akhir ini jarang sekali yang menyorotnya. Apakah ia akan mencalonkah diri menjadi presiden lagi? Tak seorangpun yang tahu. Mungkin, kini ia sedang bersembunyi, berkontemplasi, menghitung-hitung peluang mana yang lebih besar: jadi pemenang atau pecundang, ketika nanti ia jadi terjun untuk mencalonkan diri. Biarpun kepala pening, kalkulasi untung-rugi tetaplah penting agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Jika mapres yang keempat masih ragu-ragu untuk mundur atau maju, lain halnya dengan mapres yang kelima. Ternyata ia dengan mantap telah masuk menyelinap ke dalam golongan muka-muka lama yang mencalonkan diri untuk jadi presiden (lagi).

Meski telah ‘mencicipi’ rasanya jadi presiden, tampaknya ia masih bernafsu dengan kekuasaan. Memang, konon katanya, kekuasaan itu adalah candu, bahkan mungkin ia jauh lebih ‘candu’ dari candu itu sendiri. Orang yang telah menikmatinya sekali biasanya ingin mencoba untuk kedua, ketiga, keempat atau bahkan jika ada untuk keseribu kali. Mungkin, mapres kelima masih menyimpan hasrat untuk mengulang masa-masa sulit dan berat ketika dulu jadi presiden. Mungkin pula ia ingin menggenapkan apa-apa yang ‘terlewatkan’ dan belum sempat dirasakan waktu jadi presiden. Maklum saja, memikirkan nasib dan kesejahteraan negeri kaya beserta 200 juta penduduk di atasnya adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu dan menguras peluh. Jangankan untuk duduk berleha-leha, menikmati nikmatnya satu tarikan nafas saja susah sekali rasanya. No time to rest, tak ada waktu untuk beristirahat karena ia sadar bahwa yang sedang ia pikul adalah 200 juta amanat rakyat yang harus ditunaikan dan jangan sampai ‘dilewatkan’, meskipun itu cuma sebuah amanat, apalagi jika sampai berani berbuat khianat. Alamat di akhirat urusan bisa gawat!!!

Sejujurnya, aku tak tahu track record-nya sewaktu memimpin bangsa Indonesia kurun waktu 2002-2004. Aku tak tahu visi-misi kepemimpinannya, hasil-hasil apa yang telah dicapainya dan juga –semoga saja tidak ada— dosa-dosanya kepada rakyat Indonesia. Persepsiku tentang dirinya biasa-biasa saja karena aku ‘buta’ informasi tentang dirinya sampai suatu ketika aku menemukan sebuah majalah yang mengupas habis segala hal yang terjadi dalam masa kepemimpinannya. Inilah ‘prestasi-prestasi’ yang berhasil ditorehkannya:

è semenjak lengsernya presiden yang kedua hingga masa kepemimpinan presiden yang keempat, tak ada lagi cerita aktivis-aktivis pergerakan rakyat ditangkap hanya gara-gara berdemo dan menolak kebijakan pemerintah yang dinilai kontra rakyat. Penangkapan aktivis adalah cerita masa lalu sebelum zaman reformasi. Kini, para aktivis dihormati karena mereka adalah pahlawan penggerak reformasi. Tapi anehnya, di masa kepemimpinan mapres yang kelima, telinga-telinga para penguasa sangat sensitif dengan orasi-orasi rakyat –khususnya mahasiswa–, rezim yang berkuasa bertindak sangat represif. Aktivis-aktivis yang dianggap ‘vokal’ menerima intimidasi, terror, kekerasan, bahkan penculikan! Tampaknya, sebuah gaya pemerintahan bercorak otoriter diktatorial ala ‘pewaris terdahulu’ coba dihidupkan kembali di negeri ini. “Mereka tidak tahu diri! Mereka bisa duduk di kursi kekuasaan karena perjuangan kami, karena pengorbanan kawan-kawan kami. Mereka tak tahu diri dan anti demokrasi!” pekik salah seorang aktivis mahasiswa.

è ketua BEM UI 2002-2003, Rico Marbun, diseret ke pengadilan. Sejumlah aktivis pergerakan masuk DPO (daftar pencarian orang) polisi. Mereka disamakan dengan pelaku kejahatan. Status mereka adalah buronan padahal mereka meneriakkan keadilan dan menentang kezaliman.

è ketua BEM UNJ 2002-2003, Defrizal, dijadikan tersangka karena dianggap bertanggung jawab terhadap aksi mahasiswa di depan Istana Merdeka Jakarta, 9 Mei 2003.

è dua puluh satu aktivis KAMMI di Surabaya ditangkap ‘hanya’ gara-gara mendemo kedatangan presiden di kotanya.

è kebijakan revitalisasi perekonomian, mengambil cara-cara pintas yang sungguh bodoh, tolol dan tidak waras karena jelas-jelas merugikan bangsa. Penjualan aset-aset negara yang bernilai strategis dengan harga miris, contohnya saja: BCA dan Indosat yang dibangun dengan susah payah dijual ke penjajah asing dengan harga tergolong ‘murah’. Penjualan BUMN secara besar-besaran terjadi saat itu. Sungguh sangat memprihatinkan, padahal Presiden Soekarno telah mengingatkan kita akan bahaya penjajahan gaya baru neokolonialisme sejak puluhan tahun yang lalu.

è pembelian pesawat ‘bekas’ Sukhoi dengan harga ‘wah’ tapi kualitasnya payah. Terbukti, kini pesawat-pesawat itu banyak yang telah rusak padalah belum pernah dipakai untuk bertempur.

è untuk menutup defisit anggaran APBN yang mencapai 151 MILYAR yang disebabkan korupsi berjama’ah para pejabatnya, ia seenaknya saja menutup defisit itu dengan jalan: menaikkan harga-harga kebutuhan pokok, intensifikasi pajak, penghapusan subsidi. Ibaratnya, para konglomerat dan pejabat yang merampok, rakyat yang kudu nombok!

è di saat rakyat dalam keadaan tercekik karena krisis ekonomi, ia malah menaikkan tarif dasar listrik, air dan telpon secara bersamaan. Sebuah pencapaian yang bahkan belum pernah ‘tega’ dilakukan oleh para pendahulunya, padahal masih banyak solusi lain untuk mensiasati keadaan tersebut.

è di saat ia menyuruh rakyat untuk ‘mengencangkan ikat pinggang’ dalam kondisi krisis, pesta ulang tahun salah satu anggota keluarganya di penghujung tahun 2002 berlangsung meriah, menghabiskan dana lebih dari 800 juta rupiah! Hal ini diperparah dengan hobinya yang doyan pelesiran bersama rombongannya ke luar negeri dengan alasan-alasan yang kurang berguna, mencuci mata melihat surga-surga di berbagai belahan dunia sambil menutup mata melihat penderitaan rakyat di negeri yang dipimpinnya. Pemimpin model apa ini???

è korupsi semakin merebak bahkan di masa pemerintahannya, Indonesia berhasil mencapai puncak tertinggi sebagai negara dengan tingkat korupsi paling tinggi di dunia bersama dengan Bangladesh. Koruptor-koruptor besar diampuni dengan program release and discharge-nya.

è pilih kasih hokum. Mantan ketua DPR di masanya –yang juga koleganya— yang telah terbukti mengkorupsi 40 MILYAR dana Bulog dan telah dijatuhi hukuman 3 tahun penjara hingga detik ini tidak sedetikpun pernah dimasukkan di bui. Hingga saat ini, dia bebas berkeliaran dan orang-orang telah lupa akan perbuatan jahatnya. Bolehlah di dunia engkau selamat, tapi tidak di akhirat!

è krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat banyak orang jatuh miskin tapi tidak dengan keluarga dan kroni-kroninya. Aset-aset kekayaannya malah bertambah berupa SPBU-SPBU di Jakarta, kepemilikan tanah dan hutan yang tersebar di mana-mana. Oho..memperkaya diri dan keluarga rupanya!

è dan sederet dosa-dosa lain yang kelak akan Tuhan tunjukkan balasannya kepada para pelakunya di akhirat saja.

Wow, sungguh luar biasa! Hanya dua tahun memerintah namun dosa-dosanya telah melimpah ruah layaknya air bah. Hal ini diperparah dengan nilai pemerintahan yang ‘miskin’ bahkan minus prestasi! Banyak pakar menilai, ia tidak punya visi dan arah pembangunan bangsa, hanya jadi boneka pihak-pihak yang bermain di belakangnya. Pemerintahannya asal-asalan, asal goblek, dasar goblog! Tidak ada kemajuan apapun buat bangsa dalam kepemimpinannya. Jika anda menjuluki para guru sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ maka aku ingin sekali menjuluki mantan presidenku itu sebagai ‘pemimpin bangsa tanpa jasa’.

Sayang sekali, ia yang dulu mengkritik dan mengutuk mapres yang kedua –setelah lengsernya— ternyata tidak lebih baik dari orang yang ia kutuk bahkan mungkin kepemimpinannya jauh lebih buruk dan busuk. Sayang sekali, semboyannya yang dulu menjelang pemilu sebagai partainya wong cilik ternyata hanya pepesan kosong. Kebijakan-kebijakannya sewaktu memerintah sama sekali tidak ada bau-bau rakyatnya. Pantas saja, di pemilu berikutnya, perolehan suara partainya turun drastis dari 34% di tahun 1999 menjadi tinggal 18%. Rakyat akhirnya tahu belangnya. Memang, suatu rezim yang buruk jika tidak diganti dengan rezim yang baik, jujur dan adil, maka ia akan diganti dengan rezim baru yang jauh lebih buas dan zalim. Ternyata, dongeng indah reformasi hanya sampai pada tahap mengganti rezim yang berkuasa sedangkan sistemnya sama saja. Nasib rakyat memang berubah tapi ke arah yang lebih tragis dan parah. Yang melarat makin sekarat, yang korup dan kaya semakin jaya. Koruptor-koruptor lama berganti dengan koruptor-koruptor baru yang ternyata jauh lebih rakus dari tikus sekalipun. Perubahan yang rakyat impikan kini tinggalah harapan.

***

Aku memandang negeriku. Aku ingin negeri kaya ini dihuni oleh negara yang kaya pula. Sebentar lagi pemilu akan dilaksanakan. Aku sadar, dengan statusku sebagai pasien berobat jalan, tak akan banyak hal yang dapat kulakukan. Tiba-tiba aku jadi teringat sebuah perkataan bijak: “jika kita mempunyai sebuah do’a yang pasti dikabulkan Tuhan, maka do’a itu akan kita kirimkan untuk pemimpin kita” Oleh karena itu, aku ingin berdo’a  saja, semoga negeri ini nantinya dipimpin oleh seorang pemimpin yang luhur, jujur dan adil di akhir pemilu kelak..

Djakarta, 20 Februari 2009

–met ultah for someone–

 


Tanggapan

  1. cukup gampang teridentifikasi siapa pemimpin yang dimaksud.

    Gw inget sama obrolan2 di tahun 1998an, katanya, soeharto bukanlah orang paling korup, bukan pemimpin yang secara jahat, tiran, despotik memerintah Indonesia. cuma, dia tuh nepotis. Itu aja. Dia nepotis karena kelewat sayang sama keluarga dan koleganya, dan keluarga serta koleganyalah yang oportunis memanfaatkan dorongan manusiawi sang pemimpin.

    kita emang gak boleh sedemikian tolerannya sama pemimpin yang gak korup tapi nepotis atas alasan bahwa dia hanya mengikuti dorongan kekeluargaannya, artinya, dia tetep salah karena kapasitas yang sedang kita bicarakan adl kapasitas seorang pemimpin yang otoritatif, bukan yang laen. tapi yang harus dihujat kejam2 adl sistem Nepotisme yang mendompleng seorang figur seperti Simbiot kepada inang.

    karena itu, dalam politik, seorang yang mendeklarasikan pencalonannya harus relatif seorang diri dalam mengorganisasikan prosesi Politiknya, biar gak nyangkut “Politik etis” dimasa dimana dia udah memiliki otoritas.

  2. madjikanimyang said:

    kenyataannya, seorang politikus yang punya cita2 untuk maju sendiri, punya idealisme sendiri, punya otoritas sendiri–tak ingin diatur pihak lain– di negeri ini biasanya hanya akan jadi gila sendiri karena impiannya sulit terealisasi..

    mungkin kita harus jadi serigala dahulu agar bisa masuk ke komunitas serigala, kemudian di suatu hari kita babat serigala itu satu persatu..hahaha…

    btw, saya berharap anda tidak salah dalam mengidentifikasi karena di zaman presiden terdahulu, polisi sering salah dalam mengidentifikasi pelaku kejahatan, disuruh menangkap koruptor malah menangkap para orator..

  3. Ya, saya tau siapa presiden yang dimksud, bukan pak Harto, bahkan beda Gender. Tapi, tanpa secara eksplisit ngomongin si mantan presiden itupun, analogi nepotisme pak harto almarhum relevan dipergunakan.

    Saya selalu menyarankan kepada setiap orang: pelajarilah Politik sebagai Filsafat dan Ilmu Politik, lebih2 filsafatnya, jangan mulai dari surat kabar dan reportase jurnalistik dari Politik-konkret.

    Mengutip Bertens dallam “Etika” (2007), dianalogikan dengan nilai moral. Kadang kita anggap ada masyarakat dg nilai moral yangrendah dan tidak etis, seperti kebiasaan orang eskimo dalam membunuh orangtua yang sudah tak memiliki kemampuan mengurus dirinya sendiri. Namun, jauh di balik itu, ada norma moral dasar yang baik yang bekerja dibaliknya. Ada penjelasan yang menarik dari para filsuf politik, termasuk filsuf dari abad ke 20, John Rawls dalam a Theory of Justice (1971)atau metapolitiknya Alain badiou, seperti diulas oleh Bagus Takwin (a.k.a mas Aten) dalam “Kembalinya Politik”. Intinya, Politik sbg perilaku justru adalah pengecualian dari Politik sbg ide.

    Justru, disarankan untuk membaca filsafat Politik utk perspektif yang hakiki.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori