Tentang Mengapa Kita Harus Selalu Keep Busy Livin’ or Keep Busy Lovin’..

Bila kamu (merasa) tidak berbuat jahat kepada orang lain, tapi entah mengapa ada orang lain yang hobi menggunjingmu, menyebarkan berita bohong tentangmu, maka saranku kamu tidak usah naik darah, marah, dan menanggapi terlalu serius orang semacam itu.

Ada segelintir orang yang memang tidak punya tujuan, cita-cita, atau goal untuk dikejar dalam hidupnya. Hidup mereka lowong, jadwal mereka kosong but still mereka butuh sesuatu untuk dikerjakan, butuh seseorang untuk dikerjain, dan congratulation kamu terpilih sebagai bahan pengisi waktu luang mereka.

Don’t you jump into their game. Keep busy livin’ or keep busy lovin’.

Tentang Apa Yang Aku Pikirkan Mengenai Jeruk Sunkist dan Jeruk Nipis

Siang itu aku melihat potongan kecil Jeruk Nipis di dalam air kobokan yang disajikan oleh penjual tukang pecel ayam. Melihat Jeruk Nipis tersebut, aku jadi kepikiran mengenai Buah Jeruk dan pada akhirnya aku jadi teringat bahwa aku ini adalah pencinta Buah Jeruk sejak kecil. Banyak varietas jeruk di dunia ini, salah satu jeruk yang menjadi primadona dan favorit banyak orang adalah Jeruk Sunkist yang konon katanya berasal dari California AS.

Bila ada polling iseng mengenai seperti apa kualitas atau karakter Buah Jeruk yang disukai, mungkin hasil pollingnya adalah Buah Jeruk yang punya (1) rasa yang manis (2) bentuknya besar, dan (3) warnanya oranye terang [*]. Itu adalah 3 kualitas unggul sebuah buah (perhatikan frase yang kupakai yakni “sebuah buah”, apakah padanan kata ini tepat atau malah mubazir?) yang ketiga-tiganya dimiliki oleh Jeruk Sunkist! Sungguh beruntung nasib Jeruk Sunkist; ia punya kualitas pribadi yang mumpuni (rasa manis) ditambah ia punya tampilan diri yang menarik (besar dan warna yang cantik). Ia sempurna luar-dalam. Tak heran bila Jeruk Sunkish disukai para petani dan diminati para pembeli.

Lalu pikiranku kembali kepada potongan Jeruk Nipis yang berada di dalam air kobokan tadi. Tanpa kita perhatikan dengan seksama sekalipun kita tahu bahwa Jeruk Nipis ini punya kualitas yang bertolak belakang –antitesis–  dari Jeruk Sunkist: rasanya asam, bentuknya kecil dan warnanya hijau rada-rada gelap. Singkat deskripsi singkat narasi, Jeruk Nipis ini memiliki semua kekurangan yang tidak dimiliki oleh Jeruk Sunkist. Ia tidak sempurna luar-dalam. Dan dengan keadaannya yang seperti itu, sudah sepatutnya Jeruk Nipis diremehkan dan diacuhkan banyak orang. Karena tidak diminati pembeli, para petani bakalan enggan menanam buah yang tidak menguntungkan ini. Varietas Jeruk Nipis akan menjadi buah langka di pasaran, atau bahkan lebih buruk yakni musnah dari kehidupan dunia ini karena tidak ada yang membutuhkan dan melestarikannya.

Namun skenario yang rada-rada muram di atas tidak terjadi karena ternyata Jeruk Nipis punya manfaat dan khasiat yang sangat luar biasa buat manusia yakni ia punya kemampuan untuk melunturkan minyak di tangan/piring kita serta meluruhkan lemak dalam perut kita yang mana kemampuan ini tidak dimiliki (atau dimiliki, tapi kadarnya cuma sedikit) oleh Jeruk Sunkish. Memang bila mengacu kepada rasanya yang asam (tidak mengenakkan di lidah), bentuknya yang kecil (tidak mengeyangkan di perut) dan warnanya yang hijau kegelap-gelapan (tidak memikat di mata), Jeruk Nipis tidak unfit sebagai buahan untuk dimakan. Tapi bila mengacu pada kualitasnya yang lain, yakni kemampuannya dalam melunturkan minyak dan lemak, Jeruk Nipis ternyata fit sebagai cairan pembersih tangan/piring atau sebagai bahan campuran minuman untuk keperluan detoksifikasi. Yang Jeruk Nipis kecil ini ajarkan kepadaku hari ini adalah bahwa status sesuatu benda yang unfit di satu posisi hal tersebut tidak mengindikasikan bahwa ia akan unfit pula di segala posisi. Sesuatu benda itu akan fit tapi mungkin di suatu pos yang tidak familiar, tidak menonjol, unik, dan bahkan bisa jadi pos itu saking spesifiknya hanya fit untuk benda itu saja.

Kasus Jeruk Sunkish dan Jeruk Nipis ini dapat dianalogikan kepada manusia, utamanya terkait dengan pekerjaan. Manusia-manusia dengan karakter Jeruk Sunkish tentu lebih mudah diterima di suatu instansi/lingkungan sosial, sementara manusia-manusia dengan karakter Jeruk Nipis harus berjuang untuk menjadi Jeruk Sunkish atau tersisih dan terbuang sebagai Jeruk Nipis simply karena instansi/lingkungan sosial tidak bersedia menyediakan posisi yang fit buatnya atau atau tidak berhasil menemukan potensi yang dimilikinya.

Tuhan, bantu aku untuk mengidentifikasi Jeruk Sunkish dan Jeruk Nipis, dan bantu aku pula untuk menyediakan posisi yang fit untuk mereka berdua. Aamiin.

Catatan:

[*] Oranye adalah warna yang cantik dan energetik; ia melambangkan semangat dan jiwa muda.

 

Tentang Mengapa Tidak Mudah Melupakan Seseorang Yang Memberimu Terlalu Banyak Hal Untuk Diingat (2)

Sewaktu ayahku masih hidup, aku sering rebahan di sampingnya. Karena aku sering pulang malam, biasanya beliau sudah tertidur ketika aku sampai rumah. Aku akan menghampirinya, mengusap-usap kepalanya dan memperhatikan matanya yang terpejam bergerak-gerak seperti hendak bangun. Sungguh sekali waktu aku pernah merasa takut bila ayahku wafat: ia memiliki banyak cerita hidup yang ia tidak/belum sampaikan kepada kami, bila ia pergi maka ia akan membawa serta seluruh rahasia hidup itu bersamanya.

Ayahku sebenarnya suka bercerita, tapi ia bercerita mengenai pengalaman hidupnya yang manis-manis saja. Tak pernah sekalipun ia menceritakan pengalaman hidupnya yang pahit, atau konfrontasi atau gangguan yang ia hadapi dari orang lain. Sebaik apapun kita, pasti ada saja orang yang tidak suka dengan kita. Begitu pula dengan ayahku. Cerita mengenai sisi lain dari ayahku aku dapatkan dari ibuku. Itupun diceritakan setelah ayah wafat. Ibu bilang bahwa ia menceritakan rahasia itu bukan untuk mewariskan dendam dengan orang-orang yang telah berlaku tidak baik atau tidak adil kepada ayahku, tapi agar aku dapat mengambil pelajaran bahwa hati yang busuk bisa datang dari mana saja, sekalipun itu adalah hati saudaramu, sekalipun itu adalah hati orang yang punya hubungan darah denganmu.

Keparat! Bajingan! Aku hampir meneteskan air mata saat mendengarkan cerita ibuku mengenai perlakuan saudara-saudara ayahku kepada ayahku di masa lalu. Sungguh aku tak mengira bahwa saudara-saudara ayahku yang kuanggap baik itu ternyata dulunya mereka-mereka itu amatlah menghinakan ayahku. Hanya 20 tahun terakhir ini saja sikap mereka agak berubah, itupun karena kondisi ekonomi keluarga kami yang membaik dan kondisi ekonomi keluarga mereka yang memburuk. Begitulah kelakuan segelintir manusia: bila engkau sedang berada di bawah engkau akan diinjak-injaknya, tapi apabila engkau mulai naik ke atas engkau akan dijilat-dijilatnya. Pantas saja ayahku semasa hidupnya tampak tidak nyaman dan menjaga jarak dengan mereka. Memang sewaktu beliau masih hidup, aku sering memprotes atau memarahi kelakuan ayahku yang agak menjaga jarak dengan saudara-saudaranya, sehingga kami terasa agak jauh dengan mereka dan cenderung lebih dekat dengan saudara-saudara dari pihak ibuku. Aku menuduhnya telah memutus tali silaturahmi. Tapi berkali-kali aku protes dan marahi, tak sekalipun ayahku marah atau menceritakan alasannya. Ia hanya diam saja dan menelan kepahitan itu semuanya. Ia bisa saja bercerita, tapi ia tidak ingin kami tahu kelakuan busuk saudara-saudaranya di masa lalu. “Udah, jangan berantem dengan orang lain”, itu pesannya kepada kami.

Pagi ini aku mengunjungi pusara ayahku. Sudah hampir 3 bulan aku tidak kesini. Aku cabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di atas tanah makamnya, aku tebarkan bunga mawar, dan sirami tanahnya dengan air. Ya Allah betapa aku bangga dengan ayahku. Aku ingin membuat ia bangga di alam sana. Atas kesabarannya, ampunilah ayahku, dan tempatkanlah beliau di tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Mu ya Allah. Aamiin.

—Gumati Buitenzorg, 14 November 1916 Masehi

Tentang Tindak-Tanduk Aneh Segelintir Warga Kota Norgorod Dalam Menyambut Musim Hujan

Secara umum, Kota Norgorod tempat Mulyadimir Samsurikov berasal memiliki curah hujan yang cukup tinggi di musim hujan. Terletak di dataran rendah yang merupakan hilir dan pertemuan beberapa sungai besar, kota ini memiliki risiko banjir yang besar pula.

Hari itu, Mulyadimir Samsurikov berjalan-jalan ke suatu wilayah langganan banjir di salah satu distrik di Kota Norgorod. Wilayah ini rawan banjir karena anak sungai yang melewati daerah itu telah mengalami sedimentasi yang cukup parah dikarenakan warganya sering membuang sampah ke sungai dan saluran air depan rumah. Yang lebih parah dan melanggar aturan adalah di antara warganya ada yang sampai menutup saluran air depan rumahnya untuk memperluas area rumahnya. Dengan tindak-tanduk seperti itu, tidak mengherankan bila wilayah mereka kerap dilanda banjir setiap musim hujan tiba.

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, menyambut musim hujan tahun ini warga kota Norgorod melakukan pembenahan untuk mengantisipasi banjir. Apa yang mereka lakukan sedikit banyak akan menyingkap kepada kita seperti apa kurang lebih karakter warga Kota Norgorod ini.

Seperti apa yang sudah disinggung pada paragraf sebelumnya bahwa banjir yang terjadi di Kota Norgorod terjadi karena pendangkalan sungai dan saluran air depan rumah yang sudah cukup parah. Maka untuk mengatasi masalah tersebut, warga Norgorod harus mengembalikan sungai dan saluran air depan rumahnya masing-masing ke kondisi semula: sedimen-sedimen dari dasar sungai dan saluran air harus dikeruk, diangkat, dan dipindahkan ke tempat pembuangan sampah. Dengan demikian, sungai dan saluran air memiliki “kedalamannya” kembali sehingga mampu menampung debit air yang lebih banyak terutama di musim hujan.

Namun solusi di atas mensyaratkan dua hal yakni (1) kerja kotor, karena sedimen sungai dan saluran air berisi lumpur dan sampah (2) kerjasama/gotongroyong, karena perkara bersih-bersih sungai jelas bukan pekerjaan satu-dua orang. Dan dua syarat inilah yang tampaknya sulit untuk dipenuhi oleh warga Norgorod sehingga mereka membiarkan saja kondisi seperti ini sekian lama sehingga banjir di wilayah itu terjadi lagi, lagi, lagi dan lagi [1]. Salah seorang warga Norgorod kemudian berinisiatif untuk membangun semacam tembok tinggi di depan rumah yang berfungsi untuk mencegah air masuk ke dalam rumah. “Tidak masalah ada banjir di depan rumah, toh nanti juga surut, asalkan airnya tidak masuk ke dalam rumah”, mungkin itu yang dipikir oleh warga tersebut. Hal ini menjadi inspirasi brilian buat warga lainnya sehingga mereka satu persatu juga ikut membangun tembok tinggi di depan rumahnya masing-masing. Bagi yang punya uang lebih banyak, mereka bukan cuma membangun tembok tinggi tapi meninggikan letak rumahnya secara keseluruhan sehingga kalau dilihat rumahnya akan tampak menonjol sendiri di antara rumah-rumah sekitar [2]. “Tidak masalah ada banjir di sekitar rumah, toh nanti juga surut, asalkan tidak kena rumahku”, mungkin itu yang dipikir oleh warga tersebut.

Modus penyelesaian masalah segelintir warga Norgorod di atas selain temporer dan tidak menyelesaikan akar masalah juga merefleksikan sifat individualistis yang semakin kental. Semangat kerjasama/gotongroyong yang dulu pernah menjadi spirit segenap penduduk Negeri Kekaisaran Tsar Nikolas II sepertinya sudah hampir pudar. Masing-masing berpikir untuk solusi termudah, termurah, tercepat (jangka pendek), yang menguntungkan dirinya saja. Persetan dengan kerjasama dan kebermanfaatan bagi semua.

Semoga sikap seperti itu tidak menjangkiti para pengambil kebijakan di Istana Kaisar sana.

Catatan:

[1] Di kemudian hari Pemerintah Kota Norgorod akhirnya berinisiatif untuk membentuk Tim Oranje yang salah satu tugasnya adalah membersihkan sungai dari sampah dan kotoran. Tim Oranje ini dibayar untuk melakukan kerja kotor dan kerjasama yang enggan dilakukan oleh warga Norgorod.

[2] Bagi warga yang punya uang lebih banyak lagi, mereka menjual rumahnya dan membeli rumah lain di kawasan kota yang relatif aman dari jangkauan banjir. Adapun warga yang tidak punya uang (sehingga tidak bisa membangun tembok atau meninggikan rumah atau membeli rumah di kawasan yang baru) semoga Tuhan memberkahi mereka dengan kesabaran.

Tentang Mengapa Mulyadimir Samsurikov Berwajah Datar : Sebuah Genealogi Ekspresi

Apa yang kau lihat dalam diri seorang manusia, entah itu gerak-geriknya, tindak-tanduknya, mimik mukanya, gayanya, pola pikirnya, kepribadiannya, dan lain sebagainya, itu semua adalah merupakan cerminan dari apa yang telah dilalui oleh manusia tersebut. Bila kau diberkahi dengan insting bawaan (nature) atau keterampilan investigatif hasil latihan bertahun-tahun (nurture), kau dapat mengetahui –atau mengira-ngira– masa lalu seseorang dengan melihat kelakuannya hari ini.


 

[1]

Mulyadimir Samsurikov tahu bila ekspresi wajahnya itu rada-rada flat alias datar. Telah banyak koleganya baik di masa lalu, di masa kini, dan mungkin di masa yang akan datang yang mengatakan perihal tersebut. Ia sendiri juga telah berkaca dan berinterospeksi di depan cermin untuk memastikan apakah impresi publik yang ia dengar itu benar. Dan hasil interospeksinya tersebut adalah: ia sudah cukup ekspresif!

Sungguh mengagetkan bukan? Ternyata terdapat perbedaan antara impresi pribadi Mulyadimir Samsurikov dan impresi publik mengenai ekspresi wajah Mulyadimir Samsurikov. Di sini kita dihadapkan pada salah satu soal klasik mengenai keabsahan: Manakah yang lebih bisa kita pegang: pendapat pribadi satu orang tentang dirinya bahwa ia begini atau pendapat ratusan orang tentang satu orang bahwa ia begitu? Ini sebenarnya adalah hal yang tidak penting sama sekali untuk dibahas tapi anehnya penulis tetap ingin membahas hal yang tidak penting ini karena mungkin ia telah kehabisan hal-hal penting lain dalam hidupnya untuk dibahas. Inilah opini penulis mengenai kasus ini:

Mulyadimir Samsurikov menurut skala yang ia pakai mengenai ke-ekspresif-an adalah orang yang ekspresif. Namun skala ekspresi yang ia pakai berbeda –untuk lebih tepatnya bisa dikatakan: lebih rendah angka toleransinya– bila dibandingkan dengan skala ekspresi yang biasa dipakai oleh publik. Perbedaan skala inilah yang menyebabkan Mulyadimir Samsurikov sudah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ekspresif menurut dirinya, namun ia belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ekspresif menurut publik.

[2]

Mulyadimir Samsurikov sebenarnya tahu bila ekspresi wajahnya itu rada-rada flat alias datar. Telah banyak tetangganya baik di masa lalu, di masa kini, maupun di masa yang akan datang yang mengatakan perihal tersebut. Ia sendiri sebenarnya juga telah berinterospeksi dan mengakui –sekali lagi saya ulangi: telah mengakui– bahwa ia adalah orang yang tidak ekspresif. Tapi yang ingin Mulyadimir Samsurikov sampaikan disini adalah: meskipun ekspresi merupakan manifestasi dari emosi (perasaan) seseorang, hal tersebut tidak serta merta membuat kita dapat langsung menyimpulkan bahwa orang yang tidak berekspresi adalah orang tidak berperasaan sama sekali. Seseorang tidak berekspresi bisa jadi karena (1) dia memang tidak punya perasaan terhadap seseorang/peristiwa, atau (2) dia punya perasaan tapi dia tidak bisa menampilkan perasaannya tersebut melalui ekspresi seperti manusia lain pada umumnya -–Mulyadimir Samsurikov dalam kasus ini masuk ke dalam golongan yang kedua.

Meskipun sudah lama Mulyadimir Samsurikov tahu mengenai ekspresi wajahnya yang flat itu, tapi mengenai kenapa ekspresi wajahnya bisa flat seperti itu ia baru mendapatkan pemahamannya baru-baru ini saja. Setelah melakukan investigasi dengan cukup hati-hati, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa ini semua dipengaruhi oleh lingkungan keluarga intinya. Mulyadimir Samsurikov dibesarkan dalam keluarga dimana peristiwa-peristiwa emosionil dalam kehidupan (kesuksesan, kegagalan, kelahiran, kematian, berkah, bencana, hari-hari besar) disambut dengan diterima dengan biasa-biasa saja, tidak ada perayaan meriah apabila individu sukses atau omelan sumpah serapah apabila individu gagal. Nikmat atau derita lebih banyak dirasakan atau ditanggung tiap individu alih-alih dibagikan, dirasakan dan dirayakan bersama oleh segenap anggota keluarga. Singkat kata singkat cerita, di dalam keluarga Mulyadimir Samsurikov, emosi tidak diselebrasikan —dan oleh karena itu tidak diekspresikan.

Hal itulah yang menyebabkan Mulyadimir Samsurikov akan berekspresi biasa-biasa saja baik di kala mendengar berita suka maupun di kala mendengar berita duka. Bukan karena perasaannya tidak tersentuh dengan berita-berita itu tapi lebih karena ia tidak terbiasa untuk menampilkan perasaannya secara terbuka. Oleh karena itu, Mulyadimir Samsurikov akan amat jarang tertawa terbahak-bahak atau menangis tersedu-sedu dalam hidupnya. Bila suatu saat ia tertawa atau menangis, itu adalah ungkapan perasaannya yang tidak mampu untuk ia simpan lagi.

 

Tentang Sebuah Renungan di Tanggal 5 November 1916 Masehi

Aku kadang merasa iri dengan orang yang bisa langsung tune in menjalani kehidupan, sementara diriku selalu dilingkupi pertanyaan mengenai kehidupan yang tak kunjung terjawab seperti: Apa tujuan sejati dari hidupku ini? Apakah saat ini aku sudah berada di jalur yang tepat menuju tujuan tersebut? Bagaimana aku mengetahui apakah tujuan yang kusasar sudah tepat atau belum? Bagaimana bila seandainya aku berada di jalur yang tidak tepat?

Pencarian yang tidak tuntas akan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas menyebabkan keputusan-keputusan yang kuambil sepanjang hidupku tidak mantap dan meyakinkan. Aku tidak tahu kapan aku akan mendapatkan ‘penyingkapan’ yang kutunggu-tunggu selama ini. Namun sepertinya aku memang harus benar-benar mulai mencari, atau aku akan berakhir dengan rasa penasaran dan penyesalan.

—St. Petersburg, 5 November 1916

Tentang Apa Yang Dapat Aku Ceritakan Mengenai Pantai Pasir Dua Papua..

Temanku yang baik mengajakku ke sebuah pantai di suatu pagi. Kemarin aku telah menyelesaikan pekerjaanku. Aku rasa tak ada salahnya bila sebelum pulang nanti siang, aku pelesiran barang sejenak.

Pantai itu tidak jauh dari tempat aku menginap, kurang lebih hanya 30 menit —aku tak pandai menaksir jarak tempat dan usia seseorang. Terletak di balik bukit, pantai ini agak terpencil dan tampaknya jarang dikunjungi manusia. Tapi itu sebenarnya adalah pertanda yang bagus: tempat-tempat wisata yang sulit dikunjungi manusia akan terjaga keaslian dan kebersihannya.

Temanku memarkirkan mobilnya di tepi jalan secara sembarangan —tak banyak kendaraan yang lewat jalan itu. Selepas turun dari mobil, kami menyusuri jalan setapak dengan lebar kurang lebih 3 meter yang kanan kirinya ditumbuhi pepohonan dan rumput liar. Kurang lebih 5 menit berjalan, akhirnya kami sampai di pantai tersebut. Aku deskripsikan sedikit mengenai pantai ini: pasir pantainya berwarna putih dan bertekstur halus, di kanan kirinya dikelilingi oleh bukit karang yang di atasnya ditumbuhi pepohonan yang lebat, airnya cukup bening sehingga mampu menampilkan gradasi warna dasar laut dari hijau muda, hijau tua hingga biru muda. Gradasi warna ini begitu indahnya hingga aku mengambil kamera hpku untuk memotretnya. Keparatnya, mata kameraku tak mampu menangkap keindahan yang disaksikan oleh mataku.

Aku melepaskan alas kaki dan membiarkan kakiku dibasuh oleh air yang lembut itu. Aku menutup mata hendak menyerap semuanya: suara hembusan angin, suara dan sensasi hentakan ombak,  dan banyak lainnya. Aku mengucapkan puji syukur kepada Tuhan atas nikmat keindahan yang tak terperi ini. Dalam hati, aku bertanya-tanya: Tuhan sudah berapa lama Engkau ciptakan pantai yang indah ini? Baru kali ini aku berkesempatan mengunjunginya. Mesti masih banyak lagi tempat-tempat menakjubkan lainnya yang Engkau ciptakan. Masih berapa trilyun lagi yang belum aku kunjungi? Tuhan jangan Kau rahasiakan tempat-tempat itu dariku. Izinkan aku mengunjunginya dan biarkan aku menyebut keagungan nama-Mu di sana. Janganlah Engkau menciptakan suatu keindahan yang tak seorang makhluk pun Engkau berikan kesempatan untuk menyaksikannya.

Itulah doaku. Semoga Tuhan berkenan mendengarkannya. Aamiin.